Satukan Semua Perbedaan Menjadi Kekuatan Tanpa Batas Untuk Manusia yang Rahmatan Lil'alamin

Minggu, 29 November 2015

TAS ANKH


Tas ini hampir selalu ada di setiap relief peninggalan bangsa bangsa tertua di bumi yang telah mencapai puncak peradaban tertinggi, seperti Babylonia, Sumerian dan Mayan.

ANKH bukan tas biasa, tas ini berisi bakteri anti KLAD mythocondria cell yang mampu meng-upgrade kemampuan manusia menjadi lebih dari 10%.
Jadi anti KLAD yang sudah dibahas selain HAPAN (Hawa Panas) yaitu KLADRHA (nanotech sinar anti KLAD secara temporay sampai dengan 40%) dan ANKH (bakteri anti KLAD lebih dari 10%)


[Drentaga]



BANGSA ANNARA



Yang digambar itu namanya ANNARA. Dia itu bangsa yang membantu proses GRANUMA di banyak planet dengan menyebarkan bibit tumbuhan dan tanaman jutaan jenis, baik yang besar ataupun yang kecil. Sekaligus menyebarkan jasad renik seperti bakterial dan fungi.

Bangsa ANNARA tergantung planet, kalau perlu sayap mereka tinggal pasang sayap buatan, kalau perlu jetpack mereka akan pasang. Tapi mereka tidak menggunakan anti gravitasi karena tidak suka.

Bangsa ANNARA dikloning oleh bangsa-bangsa pembuat peradaban seperti Bangsa MOSRAM.
Bangsa ANNARA juga menyuplai hydrogen sebagai bahan dasar air di suau planet.
Atmosfir tidak hadir secara alami dari oksigen tumbuh-tumbuhan tapi direkayasa dengan nano technology yang disatukan (menyatu) dengan magma suatu planet, karenanya atmosfir tidak menyebar.


[Drentaga]



SAMPRAZAAN (SAMPURASUN)

SAMPRAZAAN artinya selamat sejahtera semoga keselamatan dan keberkahan dilimpahkan kepada anda. Karena penyebutannya yang susah kata ini kemudian berubah menjadi "SAMPURASUN" dalam bahasa Sunda masa kini. 
Kenapa memakai kata "selamat sejahtera" dan bukan "salam sejahtera" ? 
Dari awal ucapan selamat diberikan pada semua manusia di segala dimensi. Sedari awal manusia mengharapkan keselamatan baik keselamatan di dunia dan di segala dimensi. Mengapa juga mencakup keselamatan di dimensi ? bisa saja kita secara fisik celaka di dimensi dunia saat ini tapi kita "selamat" di dimensi lain, misalnya saja ketika seorang mengalami tabrakan ia secara fisik bisa saja hancur namun sebenarnya diselamatkan oleh Sang Maha Pencipta.
Bila tidak ia akan hidup dan menghabiskan hidupnya sebagai penjahat.
Contoh lain, anak yang meninggal karena sakit cacar sebenarnya ia diselamatkan oleh Sang Maha Pencipta agar tidak tumbuh menjadi koruptor.

Kata itu dijawab RHAMPIAZA yang artinya dan anda semua diseluruh dimensi, kata ini kemudian berubah menjadi "RAMPES" dalam bahasa Sunda masa kini. 
Tidak ada manusia yang mati. Mereka hanya pindah dimensi dan tetap dido'akan

SAMPRAZAAN dan RHAMPIAZA mengandung makna yang sangat dalam, Keduanya adalah do'a yang disampaikan sesama manusia, untuk semua umat manusia di dimensi manapun dia berada. 
Sayangnya banyak yang tidak mengerti maknanya yang dalam. Saat ini salam hanya menjadi sebuah tradisi sapaan basa basi.
Salam yang bermakna dalam ini merupakan bahasa Bangsa LEMURIAN. Bangsa LEMURIAN seringkali disebut sebagai bagian dari kebudayaan Sunda Besar. Bangsa LEMURIAN dahulu kala berbahasa ZHUNNDA

[Drentaga]



Minggu, 15 November 2015

Solusi Energi Untuk Krisis Energi

This 16th quality or the lowest level of my thorium batteries are still running non stop 24 hours a day for 6 month without charging and I hope it can running for 3 - 4 years. This batteries no needs to charge. Follow my tweet : @dickyzainal


Dicky Zainal Arifin yang biasa disapa Kang Dicky berhasil menemukan generator listrik yang berbasis pada non bahan bakar minyak dan gas. Prototipe, inventory atau penemuan generator telah berhasil diujicoba selama beberapa tahun untuk memenuhi kebutuhan listrik keluarga, bahkan satu kota



Senin, 17 Agustus 2015

INDONESIA

01. INDONESIA : Ini Negeri Demokrasi Organisasi Nasionali Ekonomi Sosiali Internasionali Agami

02. Demokrasi : Negeri ini menganut sistem Kekuasaan berada di tangan Rakyat.

03. Organisasi : Negeri ini menjamin hak untuk berorganisasi, bersyarikat dan berkumpul, asal tidak mengganggu kepentingan umum.

04. Nasionali : Memiliki rasa kebangsaan yang tinggi dan terpuji. Berperadaban luar biasa dan luhur. Itu yang seharusnya.

05. Ekonomi : Negeri ini memiliki Kekayaan alam luar biasa, dan agraris ekonomis. Tinggal pengelolaan yang baik dan memihak rakyat.

06. Sosiali : Negeri yg berdasarkan Undang-Undang nya lebih mengutamakan kepentingan rakyat. Pemerataan keadilan dan kemakmuran. Aamiin.

07. Internasionali : Negeri yang banyak membantu memakmurkan seluruh dunia dengan kekayaan alamnya, dikenal dunia karena budaya dan keseniannya.

08. Agami : Negeri yg menjamin kebebasan pada penduduknya untuk memeluk dan beribadat sesuai Agama dan kepercayaannya masing-masing.

Selamat memperingati Hari Proklamasi 17 Agustus

@dickyzainal
 
INDONESIA IT'S AWESOME



Rabu, 15 Juli 2015

Menuju MA'RIFATULLAH

PUNCAK perjalanan dzikir adalah ma’rifatullah. Yakni, tersingkapnya tabir batin atau hijab jiwa yang menutupi hati kita dari ‘Sumber Segala Ilmu Pengetahuan’. Istilah ma’rifat bermakna ‘pengetahuan’, berasal dari kata arafa yang bermakna ‘mengetahui. Di level ini seorang ahli dzikir telah mencapai suatu kondisi terbukanya mata batin, sebagaimana dialami oleh para wali, nabi dan rasul.

Para wali, nabi dan rasul itu awalnya pun adalah orang-orang yang berusaha ‘mencari’ Tuhan, Sang Sumber Pengetahuan yang bersifat abadi, yang menggenggam segala rahasia kehidupan. Dalam segala levelnya, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim sang peletak dasar tauhid, Nabi Musa sang kalimullah, dan Nabi Muhammad sang penyempurna risalah.


Setiap manusia membawa fitrah keilahian, dimana ia merindukan keabadian, yang hanya dimiliki oleh Sang Khaliq. Karena itu, setiap kita, ingin berinteraksi dengan Asal Usul eksistensi kita itu. Yaitu, Sang Maha Eksistensi yang menjadi sumber segala keberadaan. Orang jawa menyebutnya sebagai ilmu ‘Sangkan Paraning Dumadi’ alias ‘asal-usul segala eksistensi’.

Dzikir adalah skill praktis yang akan membawa seseorang mencapai tingkat ma’rifatullah, yang tidak bisa dicapai secara teoritis belaka. Harus dipraktekkan, sampai merasakan dan mengalami sendiri berinteraksi dengan Sang Maha Nyata. Yang saking nyatanya, sampai-sampai tidak terlihat oleh mata dan panca indera lainnya. 

Ibarat ‘sang waktu’ yang sedemikian nyata membelenggu realitas, sampai-sampai kita tidak bisa mengamati wujudnya. Dan hanya bisa merasakan keberadaannya. Sebab, yang kita amati pada jam dinding itu bukanlah sang waktu, melainkan sekedar pergerakan jarum yang kita buat sendiri untuk dijadikan ‘penanda’ dinamika waktu. ‘Sang Waktu’sendiri tak pernah menampakkan diri. Toh, kita percaya akan adanya.

Demikianlah Sang Maha Nyata. Dia jelas-jelas ada dan bisa kita rasakan keberadaan-Nya. Tetapi, tak pernah menampakkan Diri-Nya, kecuali hanya dalam bentuk tanda-tanda pada segenap ciptaan-Nya, yang bisa kita pikirkan secara ilmiah. Dan kemudian kita rasakan kehadiran-Nya dengan sepenuh jiwa. Hanya orang-orang yang jiwanya bersih, serta ingin bertemu dengan-Nya sajalah yang bakal ditemui-Nya. Tidak dalam wilayah yang fisikal, melainkan dalam wilayah yang spiritual. Tidak dalam tataran yang obyektif, melainkan dalam tataran yang subyektif. 

Kenapa demikian? Ya, karena Sang Maha Perkasa itu bukanlah ‘obyek’, melainkan ‘Subyek’, Yang Maha Bekehendak untuk melakukan apa pun, tanpa harus mengikuti kehendak siapa pun. Sehingga, adalah wajar jika Dia tidak akan menemui orang-orang yang tinggi hati, yang sejak awal sudah tidak menganggap eksistensi-Nya ada. Untuk apa menemui orang-orang yang memang tidak ingin bertemu dengan-Nya? Dia hanya akan menemui orang-orang yang memang merindukan-Nya.

Tanda-tanda keberadaan-Nya sudah dihamparkan di seluruh penjuru alam semesta. Juga di segenap peristiwa yang dilaluinya. Tetapi hati yang tertutup, tetap saja akan tertutup, dan tidak bisa merasakan keberadaan-Nya. Karena, dia memang tidak mempedulikan-Nya.
QS. Yusuf (12): 105, ‘’Dan (sebenarnya) banyak sekali tanda-tanda (eksistensi Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka berpaling darinya.’’

Sementara bagi orang-orang yang merindukan-Nya, realitas yang sama bisa bermakna berbeda. Kemana pun mereka menghadapkan wajah, mereka selalu bertemu dengan Tuhannya dalam segenap realitas di segala peristiwa. QS. Al Baqarah (2): 115, ‘’Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.’’

Itulah para ahli dzikir, yang setiap saat jiwanya terisi oleh keberadaan Tuhannya. Sejak terbangun dari tidurnya, menjalankan aktivitas keseharian, sampai kembali beristirahat di malam harinya. Nama dan sifat-sifat Allah selalu bergema di seluruh pendengaran dan horison penglihatannya. Menggetar-getarkan jiwanya. Setiap gerak-geriknya tak pernah terlepas dari Allah, Sang Maha Pemurah lagi Maha Bijaksana. Karena, dia sudah membuktikan dan merasakan sendiri bahwa Allah memang telah meliputi hamba-hamba-Nya, beserta segala ciptaan-Nya.
Allah sudah meliputi segala yang dipikirkannya, semua yang dirasakannya, seluruh ucapan-ucapanya, tingkah lakunya, bahkan hembusan nafas dan denyut jantungnya, aliran darah dan desir kelenjar-kelenjar tubuhnya, serta bertriliun-triliun sel yang menjadi penyusun badannya. Allah telah meliputi seluruh eksistensinya, kesadarannya. Maka, apa pun yang dia lihat dan dia dengar telah menjadi bukti keberadaan Allah, Sang Penguasa jagat semesta.

Itulah sebabnya, bagi seorang ahli dzikir, seluruh alam semesta ini sedang bertasbih bersamanya, persis seperti yang dikemukakan Allah di dalam firman-firman-Nya. QS. Al Israa’(17): 44. ‘’Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi (kebanyakan) kalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.’’

Orang yang sudah mencapai tingkatan ahli dzikir, tidak hanya melakukan dzikir bil lisan (hanya dengan ucapan) atau dzikir bil ‘ilmi (sekedar dengan kepahaman), melainkan sudah dzikir bil fi’li (dengan perbuatan). Dia telah menceburi sifat-sifat Allah dalam perbuatan nyata. Ucapan, kepahaman dan perbuatannya sudah menyatu dengan realitas alam semesta yang semuanya memang sedang ber-dzikir bil fi’li kepada Ilahi Rabbi. Mulai dari benda-benda langit yang maharaksasa di makrokosmos, sampai partikel-partikel kuantum yang sedemikian halus di mikrokosmos, dengan segala peristiwa yang menyertainya.

Dalam kondisi seperti itu, seorang hamba disebut telah sedemikian dekatnya dengan Allah yang memang meliputi segalanya. Jiwanya telah melebur ke dalam sifat-sifat Allah. Sehingga, apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang menggambarkan sifat Allah itu sendiri. Dia telah melihat dengan penglihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, berucap dengan ucapan Allah, dan berbuat dengan perbuatan Allah. Begitulah sebuah hadits Qudsy menggambarkan. Atau, dalam konteks peperangan yang diceritakan Al Qur’an berikut, Allah berfirman :
QS. Al Anfaal (8): 17. ‘’Maka bukan kalian yang membunuh mereka, melainkan Allahlah yang membunuhnya. Dan bukan kalian yang melempar ketika kalian melontarkan (senjata), melainkan Allah-lah yang melontarkannya. (Yang demikian itu) untuk memberi kemenangan kepada orang-orang beriman (atas orang-orang yang ingkar) dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’’

Akhirnya, di penghujung Ramadan yang penuh hikmah ini kita semua dengan penuh harap kepada Allah, semoga Dia berkenan membimbing kita di jalan yang diridhai-Nya. Yaitu, jalannya para ahli dzikir, yang mengantarkan kita untuk bertemu dengan-Nya dalam segala aktivitas yang kita jalani. Selamat menyongsong datangnya hari yang fitri di esok hari. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal yaa kariim.

Wallahu a’lam bissawab




Rabu, 17 Juni 2015

Memaknai RAMADHAN

Bulan Ramadhan bulan latihan ringan menghadapi hidup , tapi punya nilai bagus apabila kita mengerti . Zaman sekarang umat banyak yang terjebak dengan ritualnya saja. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, itu betul , tapi apakah kita tahu persis hikmah apa yang bisa dilihat dari Ramadhan itu ?

Sebetulnya Rasulullah SAW dulu mencontohkan Puasa adalah bagaimana kita mempelajari rasa lapar dan haus , juga mengajarkan bagaimana mengendalikan semua sistem di dalam tubuh . Bagaimana mengetahui kinerja otak agar bisa mengendalikan tubuh dan emosi juga jiwa dengan baik dan benar .Tapi keterangan tentang itu semua dihilangkan dengan semena-mena. Jadi makna puasa yang sebenarnya kita jadi tidak tahu . Tapi soal "point nilai lebih dan manfaat" atau "Pahala" tidak pernah dijelaskan secara benar. Akhirnya pahala diartikan secara mistis . Padahal definisi pahala adalah point nilai lebih dan manfaat dari semua perbuatan yang diperintahkan Allah SWT kepada kita . Tapi jadi mistis karena tidak memikirkan dan riwayat yang menjelaskan semua itu sengaja dihilangkan agar kita semua sesat dan lemah .

Manfaat dari Puasa atau mengendalikan Nafsu adalah bulan bagaimana menggembleng diri dan mengkaji kinerja tubuh untuk memahami bagaimana nafsu itu bekerja . Jadi bulan penuh hikmah adalah kita akan memahami kinerja tubuh kita secara benar dan baik sehingga kita akan tahu persis bagaimana mengendalikan itu semua karena sekali lagi kita akan memahaminya dengan baik dan benar .

Laylatul Al Qadr adalah malam yang diibaratkan lebih baik dari seribu bulan berdasarkan firman Allah SWT. Kebanyakan kita hanya menunggu malam itu untuk mendapatkan pahala yang kita sendiri belum jelas makna dari pahala tersebut. Kalau ditanya soal malam ini , rata-rata semua yang mengaku ulama tidak pernah satupun yang tahu jawabannya secara pasti. Semua jawaban mereka masih meraba-raba seperti mencari benda di tempat gelap tanpa penerangan sama sekali .

Padahal apabila kita mampu mengendalikan nafs selama puasa, maka pytuitari kita akan menjadi aktif dan mampu mendeteksi keberadaan malam tersebut. Malam itu adalah malam dimana pusat titik poros magnetik bumi yang dahulu menarik asteroid, sehingga menumbuk daerah yang disebut Mekah dan asteroid tersebut bernama Hajar Aswad dan ternyata sekarang berfungsi pula sebagai penyeimbang magnetik bumi pada benda angkasa yang lain, terarah pada satu titik dimana titik tersebut membuat terjadinya fluktuasi energy di planet bumi, hanya fluktuasi tersebut bisa dirasakan oleh orang yang mampu mengendalikan nafs nya selama bulan Ramadhan, itupun syaratnya kemampuan 2,5 % nya masih pure atau murni. Sekarang kita belum tentu masih sebegitu, karena dirusak oleh sekolah dan pola makan .

Di beberapa etimologi dikatakan pula malam itu adalah malam yang sempit, karena turunnya para malaikat ke planet Bumi . Dan apabila kita mampu merasakan, maka planet bumi benar-benar penuh sesak oleh fluktuasi energy . Maka dikatakan pula bahwa malam itu malam diturunkannya Al-Qur'an karena alam yang sangat mendukung oleh sebaran energy tersebut. Jibril menyuruh Iqra pada Rasulullah SAW ketika mulai diturunkannya ayat setelah didownloadkan bahasa firman Allah SWT yang pada awalnya Rasulullah SAW tidak mengerti karena bahasa yang berbeda, dengan adanya fluktuasi energy tersebut mampu secara perlahan-lahan menterjemahkannya. Apabila tidak ada fluktuasi energy ini mungkin entah harus berapa puluh kali mendownloadkannya pada otak Rasulullah SAW .

Jadi yang jelas , malam itu adalah malam fluktuasi energy , dimana apabila kita mampu memanfaatkannya dengan baik , maka benar-benar manfaat 1000 bulan itu bukan bohong tapi nyata. Rahasianya ketika kita puasa "Janganlah menahan Nafsu tetapi mengendalikan nafsu". Jadi ketika kita merasa lapar , haus , marah , kesal dan berbagai macam perasaan emosi buruk, coba perhatikan dan pelajari, mengapa itu terjadi ? Bagaimana mekanismenya ? bagaimana hubungannya dengan kimia tubuh kita ? lalu bagaimana nanti otak kita mengendalikan semua itu dengan baik dan benar . Bagaimana mempelajari naiknya amarah dan hubungannya dengan kimia tubuh dan hubungannya dengan amygdala.

Ketika puasa badan akan menjalin kerja sama dengan alam terutama Bumi. Apabila kita kendalikan nafsu kita dengan memperhatikan secara seksama dan mengerti betul bagaimana bekerjanya maka bumi akan menjadi bagian dari kita, karena semua energy nafsu yang berlebihan akan diserap oleh bumi. Marah , dendam , benci , sedih , khawatir , waswas , bingung , semuanya akan diserap secara total oleh bumi dan menjadi lebur .

Nafsu bisa menjadi syaitan yang terkutuk . Coba lakukan ini , ketika kita marah dan kesal , tarik nafas dalam - dalam lalu ucapkan sambil buang nafas "Audzubillahhiminasyaitonirojim" dan telapak tangan menyentuh tanah tanpa pengejangan sambil rileks-kan badan, insya Allah marah kita akan terserap oleh tanah dengan sempurna. Tapi syaratnya setelah kemarahan kita reda jangan diingat-ingat lagi hal yang membuat kita marah itu .
Jadi jangan harap kita akan merasakan Laylatul Al Qadr apabila puasa kita masih "menahan" bukan "mengendalikan".

Kemampuan untuk merasakan dan melihat hilal sama dengan kemampuan untuk merasakan dan melihat Lailatul Qadr . Selama puasa mereka masih menahan maka dia tidak akan pernah bisa merasakan gejala alam apapun karena tubuhnya tidak bisa bersatu dengan alam. Hilal memang tidak bisa dilihat tegas apabila dibawah derajat penglihatan teleskop carl zeis punya boscha atau teleskop lain yang menggunakan teknologi lensa. Makanya selama manusia masih menggunakan teknologi kuno seperti itu pasti jadi berdebat nggak jelas.
Padahal Allah SWT sudah memberi triger pembaca Lailatul Qadr dan Hilal itu dengan puasa, asal puasanya benar .

Seharusnya umat Islam kembali ke perhitungan awal yaitu ke sistem ORIGOM, perhitungan antariksa yang dihilangkan oleh penguasa waktu itu karena terlalu canggih. Akhirnya kita meraba-raba lagi dan terjadi perdebatan seperti ini . Tapi itu semua memang disengaja agar umat Islam di dunia tidak bersatu. Sebetulnya kalau mau diceritakan, ini sebetulnya ada konspirasi besar untuk pemecah belahan umat seperti zaman Snouck Hurhonjre dulu .

Perhitungan ORIGOM adalah perhitungan galaksi yang menggunakan bulan sebagai patokan perputaran ZANUURA . Karena bulan diletakan sangat presisi . Ini yang hilang dari Islam . Awalnya ORIGOM diturunkan ADHAMA (Nabi Adam as) ke Bangsa LEMURIAN yg kemudian diajarkan ke ras ras yang lain. Ras terakhir yg menggunakannya adalah Suku Maya. ORIGOM dasarnya adalah metode yang kemudian dikembangkan alatnya. Alatnya memerlukan energi yang besar & uranium adalah suplai energi minimal yang bisa memenuhinya.
Perhitungannya digunakan untuk membaca galaxy berpatokan pada NIRRANTHEA (bulan) bukan kutub bumi. ORIGOM bisa digunakan untuk memprediksi kondisi galaxy hingga 2 ribu tahun ke depan.

RHAMADYA itu istilah buat perantaraan matahari yang memusatkan pengaruh dari fluktuasi energy jagad ketika terjadi Al Qadr atau ARKHYDAR. Makanya bulan ini oleh kalangan LEMURIAN disebut RHAMADYA. Orang Arab menyebutnya Rhamadan terus jadi Ramadhan.

Puasa adalah soal "pengendalian", bukan soal "penahanan", karena dengan mengendalikan rasa lapar , haus , marah , benci , sedih dan sebagainya. kita akan bisa lebih "me-waspada-i" nafs - nafs yang ada di dalam diri kita, sehingga bisa dikendalikan dengan baik dan benar.

"Perhatikan" dan "Pelajari" apa yang terjadi ketika kita lapar, haus, marah, benci, sedih dan berbagai macam bentuk "Permainan Pikiran" yang seharusnya bisa kita kendalikan dengan baik dan benar. Sekali lagi inti "PUASA" adalah "Pengendalian"
"Mengendalikan Nafs" akan mampu membuat semua fasilitas yang Allah SWT berikan pada kita menjadi aktif dengan baik dan benar, sehingga akan mampu untuk membaca semua yang Sang Maha Kuasa "torehkan" di alam semesta dengan baik pula. Hal ini sulit dimengerti oleh mereka yang justru sangat "menomorsatukan nafs", karena nafs sangat pandai membuat "pembenaran" agar terlihat "baik dan indah" .


[DRENTAGA]