Jumat, 16 Januari 2015

EGO & AKAL

Mengerti Agama berarti mengerti Sesama. Perhatikanlah ketika memperlakukan sesamanya. Apabila masih buruk, berarti belum paham.

Agama adalah untuk perdamaian. Tidak ada satupun ajaran Agama untuk permusuhan. Memusuhi sesama itu ajaran "kepentingan" bukan ajaran Agama.

Surat dan ayat disalahgunakan untuk menanamkan kebencian pada pihak lain, itu adalah ajaran "kepentingan", bukan ajaran Agama.

Agama mengajarkan kesabaran, toleransi, memaklumi, kalau ada tokohnya mudah marah, benci, itu "tokoh kepentingan" bukan "tokoh Agama".

Masuk Akal adalah sesuatu yang bersifat subjektif, karena tak masuk akal menurut seseorang belum tentu tak masuk akal menurut orang lain.
Sering kata "masuk akal" sekarang menjadi sangat subjektif karena masalah "selera". Seseorang tidak suka pendapat orang yang dia tidak suka.

Yang berat itu bukan meyakinkan AKAL seseorang, tetapi bagaimana meyakinkan EGO seseorang. Bisa masuk akal setelah ego nya ditembus.

Kemajuan AKAL seseorang akan menjadi terhambat ketika EGO yang dikedepankan. Hal ini sering terjadi di masyarakat terpelajar kita.

Berdebat adalah satu cara di dalam pemuasan EGO. Karena yang dicari adalah KEMENANGAN, bukan ILMU dan AKAL, apalagi AMAL.

Kunci agar AKAL bisa muncul secara objektif adalah dengan "menurunkan EGO dan MEMAKLUMI orang lain". Dan itu adalah SABAR.

Terbukti orang yang mengutamakan EGO tidak produktif meskipun mengaku ilmuwan. Karya kata lebih diutamakan daripada karya nyata.

Introspeksi memang lebih sulit daripada sakit hati. Introspeksi adalah bagian dari AKAL, sedangkan sakit hati adalah bagian dari EGO.

AKAL yang baik mampu mengendalikan NAFS yg sebetulnya akar dari EGO. Jangan sampai NAFS mengendalikan AKAL.

Kata-kata hebat belum tentu mencerminkan perbuatan hebat. Perbuatan hebat belum tentu dicerminkan kata-kata hebat.

@dickyzainal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar