Satukan Semua Perbedaan Menjadi Kekuatan Tanpa Batas Untuk Manusia yang Rahmatan Lil'alamin

Kamis, 15 Januari 2015

MEMAHAMI PERBEDAAN MAKNA KHOLAQO DAN JA’ALA.

Dalam Al-qur'an redaksi kalimat tuk menjelaskan tentang proses penciptaan, sering menggunakan redaksi kata جَعَلَ dan خَلَقَ . Dua redaksi kalimat tadi dalam Al-qur’an selalu disandingkan dengan proses penciptaan alam semesta beserta isinya. Dua kata tadi kalau sepintas memiliki makna yang sama yaitu menciptakan atau mengkreasi atau menjadikan. Tapi kalau diteliti memiliki perbedaaan yang prinsipil dan jelas. Dengan memahami maknanya akan terbuka fakta-fakta tentang penciptaan Alam semesta yang selama ini belum terungkap. Ini sebagai bahan awal, silahkan sahabat semua teliti dan kaji ayat-ayat qur’an dengan memakai dua redaksi kalimat diatas. Mari kita bahas satu bersatu dan selamat mengkaji:


1. Kata خَلَقَ diartikan sebagai: menumbuhkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya (menciptakan). Secara bahasa, خَلَقَ (khalaqa, menciptakan) artinya: yang bisa kita sederhanakan menjadi: menciptakan sesuatu sejak semula atau menjadi sebab awal maujudnya sesuatu.
Sedangkan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) artinya: yakni membuat sesuatu dalam rangka menyediakan sesuatu itu kepada sesuatu yang lain yang sudah ada sebelumnya.
Jadi sama-sama perbuatan mencipta/menjadikan, tetapi bisa kita lihat bahwa perbuatan خَلَقَ (khalaqa, menciptakan) lebih dahulu daripada perbuatan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan).
Pengurutan ini bisa kita ketemukan di banyak tempat di dalam al-Qur’an; umpamanya:


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (SURAT AL AN'AAM (Binatang ternak) (6) ayat 1)



وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah {1071} dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (AL FURQAAN (PEMBEDA) (25) ayat 54)


2. Lafadh خَلَقَ biasa digunakan/pelakunya hanya untuk Allah, Sedangkan جَعَلَ, bisa digunakan/pelakunya untuk selain Allah.
Jadi :
setiap kata “khalaqa” , maka disana semata-mata Allah saja yang berperan menciptakannya, tanpa ada campur tangan makhluk lain. Sementara bila kata “ja’ala”, maka ada campur tangan makhluk lain didalamnya (silahkan diteliti dua kata tersebut dalam ayat-ayat Allah dan renungkan kedalaman isinya).
Sebagai contoh Silahkan Teliti ayat dibawah ini :

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (AR-RUUM (BANGSA RUMAWI) (30) ayat 21)

Mengapa pada ayat diatas tatkala Allah mengatakan menciptakan manusia, memakai kata “ Khalaqa”, sedangkan ayat selanjutnya pada ayat diatas juga, tatkala mengatakan “menjadikan diantara kamu“, memakai kata “ Ja’ala “, bukankah kedua arti diatas sama-sama berartikan “menjadikan/menciptakan..?”.

Coba kita lihat, betapa telitinya Allah dalam memasangkan kata perkata sesuai dengan maknanya yang terkandung.
Didalam AlQuran, pemakaian kata diatas berbeda untuk setiap maknanya,
Pada kata pertama dalam ayat diatas, Allah mengatakan menciptakan manusia. Jadi benar-benar Allah yang menciptakan manusia itu tanpa ada campur tangan makhluk lainnya, sementara pada kata kedua dipakai kata “ ja’ala”.

Dan menjadikan diantara kamu cinta dan kasih sayang. Ini bermaknakan, bahwa dalam menciptakan atau menjadikan pernikahan itu menjadi sebuah cinta dan kasih sayang, bukan hanya Allah saja yang menentukannya, tapi atas usaha kedua belah pihak, suami dan istri.

Allah memang sudah menjanjikan pada kita dengan adanya pernikahan, maka terciptalah ketenangan, kasih sayang dan cinta, namun semua itu tidak akan mungkin tercapai tanpa usaha kedua belah pihak, tidak akan tercapai tujuan pernikahan untuk menuju ketenangan jiwa cinta dan kasih sayang, tanpa usaha dari kedua belah pihak. Itulah sebabnya Allah memakai kata “ Ja’ala, bukan khalaqa”, subhanallah !

3. Kholaqo bermakna membuat melalui proses yang tidak dapat diganggu gugat. Kholaqo adalah kata kerja yang tidak dihubungkan pada proses manusiawi, proses pembuatan yang terkandung dalam makna kholaqo pada adalah murni hak prerogative Allah. Hal ini berbeda dengan kata ja'ala yang pada prosesnya menyertakan pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan, dimana manusia ikut berperan. jadi Jika sebuah firman Tuhan menggunakan kata ja'ala, maka berarti manusia turut dilibatkan dalam proses pengerjaannya.

Menurut Kiai Said -panggilan akrab Said Agil Sirajd,menjelaskan, kata kholaqo misalnya, memiliki arti atau makna yang berbeda dengan kata ja'ala, meskipun jika diterjemahkan tampaknya sama saja, yakni menjadikan atau membuat dan menciptakan.

Kholaqo bermakna membuat melalui proses yang tidak dapat diganggu gugat. Kholaqo adalah kata kerja yang tidak dihubungkan pada proses manusiawi, proses pembuatan yang terkandung dalam makna kholaqo pada adalah murni hak prerogatif Tuhan.

Hal ini berbeda dengan kata ja'ala yang pada prosesnya menyertakan pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan. Jika sebuah firman Tuhan menggunakan kata ja'ala, maka berarti manusia turut dilibatkan dalam proses pengerjaannya.
sebagai contoh :

وَمِنْ ءَايَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, (ASY SYUURA (MUSYAWARAT) (42) ayat 49)


لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak,padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun."
Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN) (3)  ayat 47)

Bandingkan dengan Ayat ini :

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا
وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ

Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjala dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (AN NAHL (LEBAH) (16) ayat 80)



وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (AN NAHL (LEBAH) (16) ayat 81)


Semoga Bermanfaat.


by Kang Tedi Teh Eli

Rabu, 14 Januari 2015

Tujuh Pesan Sang Guru

1). Hidup adalah untuk beribadah dan ibadah itu meliputi semua aspek dalam kehidupan sehari-hari asalkan melakukannya benar-benar dengan niat hanya krn اَللّهُ semata.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
(Q.S Adz-Dzaariyaat 51 : 56)

Ibadah bukan hanya ritual saja, tetapi juga apa yang mendasari. Bukan hanya soal tindakan, tetapi juga soal motivasi.

Ilustrasi : ada seorang pejabat mengunjungi tempat di mana sebuah gedung sedang dibangun. Ia melihat tiga orang tukang bangunan tengah bekerja ; meletakkan batu satu demi satu dan menyemennya. “Sedang apa kalian?” tanya sang pejabat kepada ketiganya.

Ketiga tukang bangunan itu memberi jawaban berbeda. Tukang bangunan pertama menjawab, “Saya sedang meletakkan batu ini.” Tukang bangunan kedua, “Saya sedang mendirikan tembok.” Tukang bangunan ketiga, “Saya sedang membangun gedung.”

Seumpama apa yang dikerjakan oleh ketiga tukang itu adalah ibadah. Tukang bangunan pertama menganggap pekerjaannya sebagai rutinitas saja. Ia tidak tahu untuk apa melakukannya. Pokoknya itu adalah pekerjaannya, maka ia lakukan. Titik. Sama dengan kita pergi ke mesjid untuk sholat. Mengapa? karena kita orang Islam. Sebagai orang Islam sudah seharusnya kita sholat ke masjid. Selesai.

Tukang bangunan kedua punya tujuan dengan pekerjaannya. Tetapi sayangnya, ia hanya melihat pada pekerjaannya sendiri, yaitu mendirikan tembok. Hanya parsial. Ia tidak melihat bahwa mendirikan tembok hanya salah satu bagian pekerjaan dari keseluruhan pekerjaan membangun gedung. Akibat yang bisa terjadi, ia sangat baik dalam mengerjakan tugasnya mendirikan tembok, tetapi ia bisa tidak mau peduli dengan pekerjaan lain. Padahal semua pekerjaan mendirikan gedung saling terkait, tidak bisa yang satu diperhatikan dan yang lain diabaikan.

Kita pergi ke masjid untuk sholat bukan hanya karena kebiasaan sebagai orang Islam, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Sayangnya kita melupakan, bahwa ibadah menyangkut keseluruhan hidup kita. Pergi ke masjid hanyalah salah satu bagian dari ibadah. Akibatnya, di masjid kita menjadi orang yang sangat baik, tetapi di luar masjid kelakuan kita sangat bertentangan.

Tukang bangunan ketiga memberi jawaban paling baik. Dia mempunyai visi yang utuh, yaitu membangun gedung. Maka disamping pekerjaannya sendiri, dia juga tentunya akan memperhatikan pekerjaan lainnya.
Hidup yang beribadah kepada Allah juga seperti itu tidak terpilah-pilah atau terpisah-pisah. Bahwa kita bekerja, bukan sekadar tuntutan kebutuhan. Kita mendidik dan membesarkan anak, bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai orang tua. Kita melakukan ini dan itu, bukan sekadar karena tanggung jawab. Semua itu kita lakukan pula dalam rangka beribadah kepada Allah.

2). Dalam hal melakukan segala sesuatu itu harus dengan upaya yg semaksimal mungkin semampu kita tanpa berfikir hasil akhir karena hasil akhir itu hanya اَللّهُ yang berhak menentukan.

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًۭا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S At-Taghaabun 64 : 16)

Kadangkala kita lebih menekankan hasil daripada prosesnya. Akibatnya, sikap untung-untungan dan bukan sikap perencanaan yang ditekankan. Para remaja antre audisi menjadi bintang sinetron karena menjadi bintang itu akan “kaya dan terkenal”. Banyak orang menggadaikan barang-barangnya untuk ikut pemilihan caleg karena duduk di legislatif itu gajinya gede dan ditakuti orang.

Peduli pada hasil daripada proses membentuk mental konsumtif. Kita menjadi pemalas karena tidak pernah berproses, cuma tahu hasilnya belaka. Gajimu berapa sekarang? Kamu dibayar berapa di sana? Itulah pertanyaan kita. Pertanyaannya bukan, kamu kerja pada siapa dan bagaimana kerja di sana? Hasil, upah, gaji, jumlah, itulah yang penting. Bukan bagaimana kerjanya.

Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh masyarakat Baduy Dalam. Di sana orang tahunya kerja keras setiap hari, entah berhasil atau tidak berhasil. Mereka “bertapa” di dunia ini, yakni bertapa kerja. Kerja itu ibadah. Hasilnya terserah pada yang memberi. Orang Baduy bekerja sekadar tidak lapar. Kelebihan hasil kerjanya diberikan pada orang lain yang membutuhkannya. Mereka pantang meminta pada orang lain. Kalau diberi pun juga mengukur dirinya, apakah pemberian itu memang berguna buat dirinya.

Proses lebih penting daripada hasil juga ditunjukkan dalam membuat barang-barang. Sebuah barang dibikin dengan proses yang sudah ditetapkan oleh adat bersama. Meskipun hasilnya bagus, kalau tidak melalui proses yang semestinya, hasil kerja itu tetap tidak bermanfaat. Proses atau laku itu jauh lebih penting daripada hasil produknya.

Ujian naik kelas itu juga berproses. Orang harus belajar keras. Meskipun telah belajar keras tetapi tidak lulus juga, dia tahu bahwa dirinya belum cukup keras berproses. Membikin tesis dan disertasi juga berproses. Bukan asal lulus dan tak mau berproses lagi. Lebih baik berproses terus, meneliti terus, meskipun tak pernah diuji dan tak pernah dihargai. Proses itu harus autentik, jujur, tanpa pamrih. Itulah laku ibadah. Beretika.

Dalam kategori Erch Fromm, proses dan hasil ini dirumuskan sebagai sikap “menjadi” (menghargai proses, laku) dan sikap “memiliki” (orientasi hasil). Nyatanya membuat peradaban modern lebih cenderung bersikap memiliki daripada “menjadi”. Tujuan hidup modern adalah akumulasi kepemilikan. Kalau perlu, semua gelar kehormatan diperlihatkan. Kalau perlu semua kekayaan dipamerkan. Kalau perlu kekuasaan ditunjuk-tunjukkan. Bahkan kecantikan dan ketampanan dijual buat memiliki sebanyak-banyaknya uang. Aji mumpung berkembang dalam sikap “hasil”.

Orientasi “hasil” ini, kepemilikan ini, akan membuat orang bersikap konsumtif bukan produktif. Kerja selingan mungkin hasil sebanyak mungkin. Kalau perlu tanpa kerja apa pun hasil terus mengalir. Jabatan lantas dilihat berapa besar dapat memperoleh benda konsumsi, bukan betapa berat tugas yang harus saya pertanggungjawabkan. Yang penting menjadi direktur, entah bagaimana kerjanya karena jabatan direktur merupakan akumulasi kepemilikan kekuasaan, kekayaan, dan kesohoran.

Menyontek itu bukan dosa intelektual, yang penting lulus atau tersohor. Otak ini dipenuhi akumulasi konsumsi pengetahuan dan bukan hasil proses kerja sendiri. Yang dinamakan orang pandai di Indonesia itu kalau berhasil menjadikan otaknya sebagai terminal pikiran-pikiran produk orang lain. Produk pemikiran sendiri itu nilainya rendah karena melalui proses laku sendiri.

Bagaimana bangsa ini akan menjadi bangsa besar kalau penghargaan terhadap proses diabaikan? Kita bisa belajar dari Cina, yang dari dulu ngotot percaya diri pada kekuatannya sendiri dan cara berpikirnya sendiri. Memang melalui proses panjang untuk membuktikan bahwa mereka akhirnya berhasil mencapai dirinya. Harus sabar tetapi terus tekun berproses. Ada perencanaan, bukan untung-untungan. Dolar boleh jatuh, tetapi rupiah tetap stabil. Itu semua akibat hasil proses.

Proses, kerja, laku, lampah, itulah hidup ini. Pantang meminta, tetapi mampu memberi. Jangan hanya belajar, tetapi juga akan dipelajari. Semua produk itu ada prosesnya. Apa bangganya mengonsumsi produk dari proses orang lain? Puaslah dengan produk sendiri yang melalui proses autentik diri sendiri. Kita bukan bangsa peminta, tetapi bangsa pemberi. Mulailah menghargai proses.


3). Hanya اَللّهُ lah yg mengetahui apa yang terbaik buat diri kita, kita tdk pernah mengetahui apa yang terbaik buat diri kita sendiri apalagi untuk org lain, namun kita sering menjadi sombong dengan merasa tahu sehingga seringkali kita jadi memaksakan keinginan kita kepada اَللّهُ

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ


Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?" (Q.S Al-Hujuraat 49 : 16)

Dalam sebuah atsar diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih disebutkan bahwa Allah berfirman: “Hamba-Ku! Taati sajalah apa yang sudah Aku perintahkan kepadamu, dan jangan (sekali-kali) mengajari-Ku terhadap apa saja yang baik untukmu.”

Bagi seorang mukmin sejati yang memiliki ketajaman nurani, tentulah terhindar dari sikap “lancang” dengan mengajari Allah terhadap segala hal yang baik untuknya. Karena memang manusia manapun di dunia ini tidak akan pernah tahu rencana dan skenario Allah ketika Dia menimpakan segala musibah dan masalah kepada hamba-Nya.

Rasanya sudah terlalu sering kita mengajari Allah bahkan terkadang harus menyalahkan-Nya saat harapan-harapan dan cita-cita kita yang kita nantikan dan tunggu tidak kunjung datang atau malah hanya kegagalan yang kita raih. Prasangka-prasangka buruk terhadap Allah melintas di fikiran kita tanpa bisa kita cegah, karena kebodohan dan kelemahan kita dalam memahami hakikat keberadaan kita di dunia ini.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 216: “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”

Banyak hal di dunia ini yang berada diluar kekuasaan kita, dan kita tidak pernah mampu menghindar dan menolaknya. Hal yang demikian karena memang kita diciptakan hanya untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Saat manusia menderita dengan rezeki yang serba kekurangan (menurutnya) seharusnya bersyukur karena Allah sedang membimbingnya agar selalu menggantungkan harapan dan memohon kepada-Nya. Saat seseorang nestapa karena kehilangan apa saja yang dicintainya selayaknya berbahagia karena pada saat yang sama Allah sedang menuntunnya agar tidak mencintai apapun melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selama paru-paru ini masih bernafas, jantung ini masih berdetak, darah ini masih mengalir, manusia tidak akan pernah terlepas dari deraan cobaan dan ujian. Karena memang dunia diciptakan sebagai tempat ujian dan akhirat sebagai tempat balasan. Kesenangan sejati hanya akan diraih jika kita sudah menginjakkan kaki di surga. Jika memang dunia ini diciptakan untuk tempat bersenang-senang, maka para nabi seharusnya yang paling berhak mendapatkannya. Lantas, kenapa malah merekalah yang paling banyak dan sering mendapatkan rentetan cobaan dan cabaran.

Semoga sebuah hadits ini akan membuat kita sadar, bersimpuh dan tertunduk malu dihadapan-Nya dan berhenti mengajari-Nya atau menyalahkan ketentuan-Nya saat doa-doa belum terpenuhi dan harapan-harapan yang gagal diraih. Karena memang tidak ada kebetulan dalam kehidupan ini.

Sebuah hadits yang riwayatkan oleh imam al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat Jibril AS berkata: Wahai Allah, hamba-Mu si fulan penuhilah segala keperluan (yang diminta)nya. Allah pun menjawab: (sudah) biarkan saja hamba-Ku (itu), Sungguh Aku senang mendengar suaranya (saat bermunajat kepada-Ku).


4.) Allah SWT itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al-Baqarah 2 : 216)

Setiap kita tentu menyukai keindahan. Karena itulah fitrah yang Allah SWT berikan kepada kita sebagai hambaNya. Menyukai dan menyenangi keindahan. Sebagaimana kita merasa senang melihat keindahan kupu-kupu yang terbang di antara bunga yang berwarna warni. Keindahan itu memberikan kesejukan bagi siapapun yang memandang.

Tetapi terkadang kita lupa bahwa keindahan itu diperoleh dari sebuah proses yang melelahkan. Proses yang boleh jadi menyakitkan. Tapi itulah sunnatullah. Sebagaimana kupu-kupu yang kita lihat demikian mempesona, lahir dari sebuah proses yang sangat melelahkan. Dan sesungguhnya ia lahir dari bentuk yang, menurut sebagian besar dari kita, menjijikkan dan menakutkan. Seekor ulat. Berhari-hari sang calon kupu-kupu tersebut berpuasa. Tidak makan dan tidak minum. Ketika pun saatnya ia akan lahir, sang calon kupu-kupu itupun harus melalui perjuangan yang melelahkan dan juga menyakitkan. Ia harus melewati sebuah lubang yang sangat kecil bahkan menjepit tubuhnya yang masih lemah. Tetapi ia terus berjuang dan berjuang. Karena ia yakin Allah SWT memberikan hikmah dibalik kesulitan yang ia alami. Setelah melewati proses yang panjang tersebut akhirnya ia lahir sebagai kupu-kupu yang indah dengan sayap mempesona.
Kesulitan, kelelahan dan kesakitan yang dialami sesungguhnya bagian dari tarbiyah dari Allah SWT untuk memberikan kekuatan kepada sang calon kupu-kupu.

Tersebutlah dalam sebuah cerita seorang yang sangat baik hati melihat sang calon kupu-kupu terjepit dalam kepompong yang mulai terbuka. Orang baik ini merasa iba dengan sang calon kupu-kupu. Ia tidak tega melihat penderitaan sang calon kupu-kupu ini untuk keluar dari lubang kepompong yang kecil bahkan teramat kecil untuk ukuran tubuhnya. Akhirnya ia pun berbaik hati membantu membukakan kepompong tersebut agar lubangnya lebih besar dan agar penderitaan sang calon kupu-kupu ini segera berakhir. Usahanya tidak sia-sia. Sang kupu-kupu keluar dengan mudah. Sangat mudah. Orang baik ini tersenyum. Lega. Karena telah membantu menghilangkan kesulitan sang kupu-kupu.
Dipandanginya kupu-kupu kecil tersebut. “Terbanglah sayang. Nikmatilah luasnya angkasa ciptaan Allah.” Bisik orang baik ini memberi semangat. Tunggu tinggal tunggu. Tetapi sang kupu-kupu ini tak kunjung bergerak untuk terbang. Beberapa kali ia mencoba mengangkat sayapnya tetapi berkali itu pula ia gagal. Sayapnya terlalu kecil mengangkat beban tubuhnya yang lebih besar. Sang kupu-kupu ini menggelepar dan akhirnya mati tanpa pernah bisa terbang sebagaimana kupu-kupu yang lain.

Orang baik ini tercenung. Mengapa gerangan ia tidak bisa terbang? Orang baik ini merasa sedih. Ternyata kesulitan sang calon kupu-kupu untuk keluar dari kepompong, satu hal yang harus ia lewati. Karena di sinilah Allah SWT menempa kekuatan sang calon kupu-kupu tersebut. Ketika tubuhnya terjepit lubang kepompong, Allah SWT mengalirkan cairan yang ada dalam tubuh sang kupu-kupu ini ke bagian sayap. Sehingga ketika berhasil keluar dari kepompong tubuhnya lebih kecil dari sayapnya dan sayap ini pun lebih besar dan lebih kuat sehingga mampu mengangkat tubuh sang kupu-kupu ini terbang bebas di angkasa. Subhanallah.

Inilah hikmah di balik setiap kesulitan. Proses yang sulit, melelahkan dan terkadang menyakitkan adalah tarbiyah dari Allah SWT agar kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mampu memberikan kesejukan bagi siapapun yang memandang.

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Ternyata Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.




5). Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik اَللّهُ semata termasuk ILMU, sehingga kita tidak berhak untuk menguasainya sendirian melainkan harus diamalkan dengan pertanggungjawabannya nanti kelak di hadapan اَللّهُ ... Demikian pula halnya dengan harta sehingga kita harus siap setiap saat bila semua itu nanti diambil kembali oleh اَللّهُ .

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍۢ مُّحِيطًۭا

"Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu." (Q.S An-Nisaa`4 :126 )

Allah adalah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu yang lain), sedangkan manusia adalah miskin (selalu membutuhkan sesuatu yang lain). Saat manusia lahir sebagai bayi, dia dalam keadaan telanjang bulat, tidak membawa apa-apa, dan belum tahu apa-apa. Saat manusia mati sebagai mayat, dia dalam keadaan kaku, tidak membawa apa-apa (kecuali amal dan kain putih), dan sudah tidak tahu apa-apa.

Semuanya adalah milik Allah. Manusia hanya sekedar “dipinjami” atau “dititipi” oleh Allah. Apa saja yang diperoleh, dirasakan dan dipakai oleh manusia hanya sekedar “barang pinjaman” atau “barang titipan” milik Allah. Suatu saat barang itu akan diminta oleh yang pemiliknya.

Harta melimpah yang kita nikmati selama ini hanyalah “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah. Allah hanya sekedar meminjami sebagian kecil kekayaan-Nya kepada kita. Kekuasaan dan jabatan yang kita genggam hanyalah sekedar “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah yang Maha Kuasa (al-Malik). Amanah dari Allah tersebut digunakan untuk mengatur, melindungi, dan mensejahterakan rakyat atau bawahan, bukan untuk memperkaya diri dan keluarga.

Ilmu yang selama ini kita dalami, dan kita menfaatkan hanyalah sekedar “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah yang Maha ber-Ilmu (al-‘Alim). Kewajiban kita adalah mengamalkan ilmu untuk kesejahteraan ummat manusia (rahmatan lil’aalamiin), bukan untuk menghancurkannya.

Nyawa kita, anggota tubuh kita, dan semua kemampuan kita hanyalah sekedar “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah SWT, yang semuanya pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Kewajiban kita adalah mengabdikan diri (beribadah) kepada Allah semata (sebagai ‘abdullah) dan mengelola kehidupan dunia menurut petunjuk-Nya (sebagai khalifah), bukan untuk hidup menurut nafsu kita.

Kesabaran dan usaha yang keras menjadi kunci untuk mengatasi krisis yang masih melanda dunia. Kesadaran yang mendalam bahwa “semua milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah” akan membawa pada kehidupan yang tenang, damai, dan optimis. Kesadaran ini juga harus diikuti dengan usaha sungguh-sungguh untuk mengatasi problem yang dihadapi. Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. al-Baqarah 2:153).

6). Segala sesuatu datang dari اَللّهُ dan akan kembali ke اَللّهُ jua sehingga kita tidak perlu merasa stress dalam menghadapi permasalahan. Masalah itu datang dari اَللّهُ maka solusinya pun hanya kepada اَللّهُ jua lah tempat kita bertanya dan memohon petunjuk.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Q.S Al-Baqarah 2 :156)

Semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Kalimat tersebut barangkali sudah tidak asing di telinga kita, terlebih ketika seorang manusia ditimpa musibah atau meninggal dunia. Namun sungguh sangat disayangkan kebanyakan manusia tidak memahami secara mendalam makna spiritual yang terkandung dalam kalimat tersebut.

Jika kita pahami dan resapi makna tersebut, maka akan timbul pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada di jagat raya ini milik Allah dari yang terbesar maupun yang terkecil, termasuk diri kita sendiri. Jika semuanya adalah milik Allah maka kita hanya sebatas diberikan amanah dan diuji, yang nantinya akan diambil kembali sang pemilik.

Diibaratkan ketika kita diberi pinjam sebuah motor untuk jangka waktu tertentu. Kita sadar bahwa motor tersebut bukanlah milik kita dan kita juga sadar bahwa nanti pada waktunya motor tersebut akan dimintai kembali oleh pemiliknya tanpa ada rasa sedih atau menyesal ketika kita mengembalikannya. Nah, kesadaran spiritual seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap diri kita yang harus teraplikasi secara utuh dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika kita ditimpa musibah kematian maka kita harus paham dan sadar bahwa kematian adalah suatu kewajaran yang harus diterima sebagai proses “diambilnya” seseorang kepada pemiliknya, sehingga tidak ada bagi kita kesedihan dan kekhawatiran bagi yang ditinggalkan.

7). Dalam melakukan ibadah itu harus lah dilakukan dgn niat krn اَللّهُ semata bukan mengharapkan surga atau pun pahala krn surga atau pahala itu hanyalah bonus. Jadi lakukan dgn niat Lillaahi Ta'alla bukan Lilbonus atau Lil-lil lainnya.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Katakanlah : "sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (Q.S Al-An`aam 6 : 162)


Siapapun yang beribadah kepada Allah karena motivasi kepentingan tertentu dengan harapan sesuatu dari-Nya, atau beribadah dalam rangka menolak bencana dari Allah, maka sesungguhnya ibadah orang tersebut (meskipun tidak salah) tapi belumlah berpijak dengan tepat sesuai dari sifat Allah itu sendiri.

Kenapa demikian?

Betapa banyaknya orang beribadah kepada Allah tidak didasari keikhlasan mutlak (Lillaahi Ta’ala), tetapi masih demi yang lain, demi kepentingan duniawi, naiknya jabatan, sukses kariernya, mendapatkan jodoh, dagangannya laku, bahkan demi menolak balak dan bencana atau siksa.

Apakah Allah Ta’ala memerintahkan kita melakukan ibadah dan menjauhi larangan-Nya karena sebuah sebab dan alasan-alasan tertentu seperti itu?

Bukankah kita beribadah karena kita memang harus melakukan ibadah dan menyambut dengan ikhlas (tanpa keinginan yang lain) sifat Rububiyah-Nya (sifat ke-Tuhan-an) melalui sifat Ubudiyah (sifat ke-Hamba-an) kita?

Bukankah segalanya sudah dijamin Allah, dan segalanya dari-Nya, bersama-Nya serta menuju kepada-Nya?

Apakah Allah tidak layak disembah, tidak layak menjadi Tuhan, tidak layak diabdi dan diikuti perintah serta larangan-Nya, manakala Allah tidak menciptakan syurga dan neraka?

Bukankah Rasulullah SAW, mengkhabarkan :

“Janganlah diantara kalian seperti budak yang buruk, jika tidak diancam ia tak pernah bekerja. Juga jangan seperti pekerja yang buruk, jika tidak diberi upah ia tidak bekerja”

Dalam kitab Zabur Allah berfirman :
“Adakah orang yang lebih zalim dibanding orang yang menyembah-Ku karena syurga atau takut neraka? Apakah jika Aku tidak menciptakan syurga dan neraka, Aku tidak pantas untuk ditaati ?”

Selasa, 13 Januari 2015

Waspadai Tuhan Tuhan Kita

Ciri dari seorang muslim adalah ia telah berikrar kepada dirinya sendiri bahwa tiada Ilah (Tuhan) selain Allah, dan bersaksi Muhammad sebagai utusan Allah. untuk kalimat yang kedua rasanya bisa kita pahami dengan cara yang tidak begitu sulit, karena Muhammad tercatat dalam sejarah pernah menginjakkan kaki di dunia ini, dan sejarah pula yang mencatat bahwa ajarannya tersebar ke seluruh penjuru dunia. Apa yang diajarkannya adalah kalimat yang pertama, yaitu tiada Tuhan selain Allah. tetapi ternyata kalimat ini tidak sesimpel kelihatannya, kita seringkali melihat Tuhan mengalami krisis identitas di mata kita, karena kita sendiri sering keliru mengidentifikasi Tuhan itu .

Bila kita coba perhatikan, lafadz Allah (الله) merupakan bentuk makrifat (ditambahi alif lam) dari kata ilāhun (اله), yang berarti Tuhan, dan dimakrifatkan menunjukkan kekhususan Tuhan yang kita sembah. Tetapi dalam kamus al Munawwir, kata ilāhun sendiri tidak bermakna Tuhan, melainkan memiliki arti kegemaran, kesenangan kepada sesuatu (Munawwir, 1984:37). Artinya ilāhun di sini adalah sebuah kecenderungan, kecenderungan terhadap apapun, maknanya sangat umum. Dari pemaknaan seperti ini, setidaknya ada korelasi yang bisa kita temukan, antara makna kecenderungan dengan penamaan Tuhan. Yaitu, Tuhan merupakan kecenderungan kita terhadap sesuatu, yang membuat kita gemar kepadanya, membuat kita menyembahnya, mengagungkannya, dan mengutamakannya. Lalu Apa yang kita cenderungi selama ini?

Dicky Zainal Arifin mengemukakan bahwa yang disebut Tuhan adalah “sesuatu yang kita sembah, sesuatu yang kita prioritaskan, sesuatu yang kita takuti, dan sesuatu yang mampu membuat kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.” Pengertian ini diambil dengan menisbatkan sifat-sifat yang kita seharusnya berlaku demikian terhadap Allah. apakah sikap-sikap di atas telah kita curahkan seluruhnya kepada Allah selama ini?

Di sini bisa kita perhatikan, terjadi bias makna tentang Tuhan yang kita pahami selama ini. Bila kita pahami bahwa Tuhan adalah sebuah kecenderungan terhadap sesuatu, maka bisa apa saja, sampai sesuatu itu kita sembah, kita takuti kehilangan, dan selalu kita prioritaskan, maka itulah Tuhan kita. Sadar atau tidak, kita seringkali menuhankan hal-hal lain selain Allah. Orang-orang kapitalis, yang menyembah uang, berusaha mencari harta sebanyak-banyaknya, sampai mereka rela melakukan apa saja demi uang, telah bertuhankan uang. Para pengejar cinta yang semu, telah mengorbankan segala halnya demi wanita/pria yang mereka anggap mereka cintai, telah menuhankan hasratnya dan orang yang dia anggap “cinta”nya. Para penguasa yang saling makan di atas sana, menginginkan kekuasaan atas segala-galanya, telah menuhankan dirinya sendiri untuk menjadi penguasa. Yang mana Tuhan kita?

Bila kita refleksikan terhadap diri kita sendiri, kita perlu banyak berbenah, terutama membenahi syahadat kita, untuk meniada Tuhankan selain Allah, apa yang kita kejar dalam hidup, apa yang kita prioritaskan dalam hidup, kemana kecenderungan kita setiap kali melakukan pekerjaan. Kita harus mulai berpikir lebih baik dan lebih matang. Ketauhidan harus muncul dari sebuah kesadaran, bukan membeo terhadap doktrin yang menjadi dogma. Sungguh rugi jika kita mengatakan hal yang tidak kita pahami, jika kita tidak mau berpikir tentang apa yang kita ucapkan.

Bila kita memang seorang muslim, mulailah berpikir dan mencari siapa Tuhan kita, temukanlah bahwa Tuhan kita memang Allah, karena kepada-Nya kita akan kembali, apa kita tidak malu jika kita kembali dan ditanya tentang identitas Tuhan kita dan kita tidak tahu atau lebih parah lagi salah dalam menjawab pertanyaan itu? Mulailah untuk berpikir, setidaknya cobalah.

T U H A N

Definisi tentang Tuhan menurut Al-Qur’an:

(1) Tuhan adalah “sesuatu” yang patut kita sembah

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” [QS:1:5]


(2) Tuhan adalah “sesuatu” yang kita takuti
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

“Sesungguhnya yang takut kepada اَللّهُ di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS:35:28]


{س} وَقَالَ اللّهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ فَإيَّايَ فَارْهَبُونِ

[16:51] Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".


(3) Tuhan adalah “sesuatu” yang kita prioritaskan

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” [QS:3:133]


(4) Tuhan adalah “sesuatu” yang bisa membuat kita melakukan hal yang tidak kita sukai

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; ALLAH Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS:2:216]


Apakah ALLAH SWT sudah menjadi Tuhan kita ? atau hanya pengakuan lipstik semata ?
Masih adakah tuhan-tuhan lain yg kita akui, kita takuti dan kita ikuti seperti poin-poin diatas ?

Bagaimana cara umat dipecah belah di negeri ini dan dibuat tidak cerdas oleh "mereka" ?

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujurat: 6]

Fakta : Konfirmasi semakin jauh di masyarakat. Kebiasaan langsung percaya pada "katanya" sekarang sedang menjadi wabah di masyarakat


Bagaimana cara umat dipecah belah di negeri ini dan dibuat tidak cerdas oleh "mereka" ? Berikut fakta-fakta nyata yang terjadi di bangsa ini.

1. Mereka mendatangi para tokoh agama, lalu membuat panas dengan memperuncing perbedaan pendapat. Itulah cara adu domba umat Devide et Impera

2. Sasaran mereka adalah para tokoh agama yang "kecerdasan dan kebijaksanaannya harus dibantu", karena mereka mudah terpancing dan emosi .

3. Lalu dibuat konfrontasi antara pihak, dan terjadilah suasana tegang di kalangan umat. Semua dibuat ngotot agar perpecahan umat selalu ada

4. Untuk itu mereka harus punya modal selain dana, yaitu dengan menyaru/menyamar menjadi salah satu bagian dari sasaran. Kalau Islam harus menyaru/menyamar sebagai Ustadz.

5. Mudah sekali membedakan mereka, kalau menyaru/menyamar sebagai Ustadz atau tokoh agama lain, pasti kerjaannya selalu menjelek-jelekkan orang lain

6. Tujuan menjelek-jelekkan orang lain adalah untuk mengkondisikan psikologis umat menjadi selalu merasa paling benar dan selalu panas

7. Menciptakan juga kondisi psikologis di umat bahwa kalau mulai berpikir dan mengkritisi mereka harus dibilang ganjil dan sesat, agar nurut

8. Mereka menebarkan kebencian di kalangan umat dengan terus menerus mempertajam perbedaan, dan amat senang kalau sampai terjadi pembunuhan.

9. Kalau sudah terjadi penyerangan BRUTAL dari kelompok besar pada kelompok kecil, dan ada korban jiwa, target awal mereka sudah tercapai.

10. Target mereka selanjutnya adalah mempengaruhi para pemegang amanah rakyat, ketika sudah dikuasai maka akan menjadi bumper yang baik

11. Atau menjadi bagian dari para pemegang amanah rakyat itu sekalian dengan mengatasnamakan agama agar terlihat baik dan benar .

12. Mereka juga membuat LSM yang bertujuan seperti bagus dan sesuai aturan, tapi ujung-ujungnya memeras setiap pengusaha yang bermasalah .

13. Setelah umat carut marut & sibuk dengan urusan sendiri kemudian tidak perduli, maka orang di belakang mereka akan bebas keruk kekayaan Negara

14. Lihatlah fakta kalau kita waspada, selama mengikuti cara mereka, umat ini tidak akan pernah maju dan bersatu untuk kemakmuran .

15. Secara Faktual juga, umat malah tambah mundur, banyak tapi lemah seperti buih di lautan, tidak punya kekuatan seperti terjangan ombak

16. Fakta : sadarkah kita bahwa selama ratusan tahun mengikuti pola mereka, umat ini tidak pernah maju dan makmur ?

17. Fakta : sadarkah kita bahwa selama ini sistem dibangun bukan untuk membuat kita menjadi cerdas, tapi membuat menjadi robot-robot pintar ?

18. Fakta : Kita jadi Pintar bukannya Cerdas. Tidak ada istilah "cerdas korupsi" yang ada adalah "pintar korupsi" "pintar nyopet" dsb

19. Fakta : Kita dididik bahwa prestasi adalah penghargaan berupa Gelar, Piagam, Pujian dsb. Bukannya karya nyata sebagai jawaban krisis .

20. Fakta : "Karya Tulis" dan "Karya Kata" jauh lebih banyak daripada "Karya Nyata". Itu disengaja agar kita jadi ahli "Copy Paste"

21. Fakta : Sistem sekolah dibuat menjadi pola "ajar" bukan pola "didik". "ajaran" itu doktrin, sedangkan "didikan" itu contoh .

22. Fakta : Konfirmasi semakin jauh di masyarakat. Kebiasaan langsung percaya pada "katanya" sekarang sedang menjadi wabah di masyarakat

23. Fakta : Semakin banyaknya Sekolah dan Pesantren juga Lembaga Pendidikan tidak membuat Negara ini semakin maju, malah secara moral mundur

24. Fakta : mereka yang memiliki solusi untuk kesejahteraan rakyat disingkirkan, sedangkan yang cari proyek diutamakan. Ini titik berbahaya .

25. Kita dibuat tidak menyadari bahwa sistem dibuat untuk membuat semakin mundur, bukan semakin maju. Perhatikanlah semua dengan seksama .

26. Mengapa kita harus mempertahankan sebuah sistem yang sudah terbukti gagal selama ini ? Kita harus mulai merubah dan berani untuk berubah

27. Kita sengaja dibuat untuk lebih takut sesama manusia, celaan sesama manusia, daripada Sang Maha Pencipta. "Apa kata Dunia" jadi Populer

28. Sekali lagi, mohon berpikir secara logis dan objektif. Sistem gagal harus dirubah, jangan dipertahankan dengan alasan apapun .

29. Salah satu sebab generasi semakin mundur adalah mereka "di-ajar" bukan "di-didik". Di-ajar adalah perintah. Di-didik dengan CONTOH BAIK.

30. Rekayasa pikiran bahwa "Hiburan" adalah Prestasi dan "Karya Nyata" adalah membosankan, itu sudah ter-peta-kan di dalam alam bawah sadar

31. Rasa bangga jadi prioritas, Terkadang orang tua menekan anak agar bisa dibanggakan, karena dia tidak ada yang bisa dibanggakan. Anak jd korban.

32. Di Negara ini ketika orang diberi amanah kekuasaan berarti berjibun proyek untuk di rampok, dan itu sudah dianggap wajar. Selidikilah .

33. Perhatikan juga ketika terjadi kecelakaan, yang menolong dengan yang menonton, jauh lebih banyak penonton. Sangat memprihatinkan .

34. Brainwash melalui tayangan televisi dengan program sinetron, gosip dan mistis juga sangat gencar. Hasilnya umat jadi mundur sudah terlihat

35. Presenter bersikap banci selalu diutamakan agar perbuatannya itu ditiru oleh masyarakat dan menyebar. Itu juga sudah terlihat berhasil .

36. Media massa menjadi sarana pesanan berita dan pengkondisian sentimen. Sangat jauh dari pemberitaan objektif, jadi harap di cross check

37. Di tanamkan juga kepada umat bahwa semua harus setuju dan sependapat dengan para tokoh Agama agar semua menurut untuk kepentingan politik

38. Jangan takut untuk menentang arus, apabila kita tahu bahwa arus itu akan menghanyutkan kita ke arah yang tidak jelas. Jangan terseret .

39. Sistem mereka berhasil membuat orang zaman sekarang lebih suka tersinggung daripada berpikir, karena tersinggung itu jauh lebih gampang

40. Coba perhatikan di jalan, pelanggaran lalu lintas dan menjalankan kendaraan seenaknya sudah dianggap wajar. Sesuai aturan dianggap aneh

41. Sistem ajar mereka memang sengaja untuk memproduksi buruh sebanyak mungkin. Buruh akan unjuk rasa di MayDay, dan itu adalah wajar.

42. Jangan salahkan masyarakat apabila satu waktu mereka sudah tidak mau mendengarkan para tokoh agama, karena mereka butuh karya nyata

43. Salah satu contoh fakta pemecah belahan umat adalah masalah Sunny-Syi'ah. Selalu ada pihak yang membuat panas suasana agar ada perang .

44. Umat tidak boleh menjadi cerdas. Semua harus mistis. Teguran KPI dianggap sepi. Nyali mereka memang sudah teruji oleh acara "uji nyali".

45. Ada yang protes ketika soal pemecahbelahan umat dan adu domba diungkap, karena takut kalau umat menjadi sadar lalu damai, mereka nganggur

46. Istilah "curhat" mereka tuduhkan pada sebuah pembeberan fakta, agar terlihat tidak bermakna dan dianggap main-main.

47. Sikap umat harus jelas, jangan mau di adu domba, waspada, damai, sabar, menerima perbedaan dengan maklum, karena itu inti ajaran agama .

48. Janganlah terpancing berdebat. Agama tidak mengajarkan berdebat. Bantahlah dengan baik yaitu dengan karya nyata bagi umat. Itulah kita .

49. Pemikiran dan Fakta dituduh sebagai "khayalan". Memberi contoh dengan karya nyata dituduh sebagai "perbuatan ria"...Heuheuheu...lucu

50. Tidakkah kita belajar dari Pelangi ? Bagaimana perbedaan warna itu sangat indah ? Apabila disatukan bisa menjadi cahaya putih dan terang

51. Segala yang kokoh dibentuk dari unsur berbeda. Butuh kecerdasan untuk me-manage-nya. Agama agar kita jadi cerdas, bukan jadi robot.

52. Untuk menjadi bangunan kokoh, bata tidak menekan semen, semen tidak menekan pasir, semua harus berimbang dan terjadi kerjasama yang baik

53. Syukurlah, semakin lama umat yang sadar makin banyak. Tidak terpancing oleh provokasi dan hasutan berkedok agama. Indonesia harus damai .

54. Membuat sarana kemandirian di masyarakat adalah prioritas utama. Jangan teralihkan perhatian dan mau dipecah-belah oleh pembuat konflik

55. Sistem menuntut kita untuk jadi penurut & mudah diatur agar mudah dikuasai juga terkendali. Pendapat berbeda dianggap nyeleneh & ganjil.

56. Kita di rekayasa agar menjadi kaum cengeng yang tidak siap dan tidak suka adanya perbedaan pendapat. Cengeng naik & kritis turun drastis .

57. Biasakanlah melihat bahwa perbedaan pendapat itu adalah wajar, agar kita memaklumi, dewasa dan damai. Jangan memaksa harus sependapat.

58. Mendiskreditkan pihak yang berbeda pendapat adalah cara jauh dari agama manapun. Tak layak diikuti oleh kaum yang menjalankan agama dengan baik

59. Mendiskreditkan umat diluar kelompoknya adalah keahlian merugikan, karena tidak punya keahlian lain yang bermanfaat bagi kemajuan Bangsa

60. Lupakan soal perbedaan pendapat, apapun pendapat anda akan kami hormati. Mari kita bersatu untuk memajukan Bangsa dan Negara. Sejahtera.

[KDZA]

Senin, 12 Januari 2015

Apa itu BAHAGIA ?

BAHAGIA sekarang selalu identik dengan KESENANGAN.

BAHAGIA itu sejatinya berada di titik nol, bukan sedih, bukan benci juga bukan kegirangan. Bahagia berbeda dengan kesenangan. Jadi bahagia tidak identik dengan senang, kenapa ? disaat anda merasa senang maka disaat lain anda akan merasa susah.

Bahagia juga tidak mengenal susah. Bahagia merupakan perasaan NETRAL artinya ketika sesuatu terserap dengan baik dan benar.
Orang yang bahagia mau diejek, dihina, difitnah, di caci maki nyantai saja tetap go ahead :) . Orang yang bahagia sudah tidak terikat lagi dengan kebendaan atau sudah tidak ada lagi keterlekatan dengan materi.

Selama kita hidup dengan keterlekatan kepada kebendaan yang begitu kuat atau masih kuat melekat maka tidak akan ada kata bahagia, entah itu keterikatan dng mobil, anak, HP, laptop, emas dan sebagainya.
Orang yg memiliki harta banyak, kekuasaan dan populer tentunya senang tapi belum tentu bahagia

[KDZA]



Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari usa, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.

"Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka."

"Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada ."

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia.
Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun."

Ayat Ayat di Kitab Suci Bukanlah Kumpulan Mantera ataupun Jimat Untuk Mengusir Jin dan Iblis

APAKAH JIN TAKUT BACAAN AL QUR'AN ?


قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا


Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang menakjubkan,
[QS. al-Jinn (72) : 1]


يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا


(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami,
[QS. al-Jinn (72) : 2]


Sampai sekarang masih banyak sekali orang berpendapat bahwa Jin akan kepanasan atau pergi jauh jauh ketika dibacakan ayat ayat Al Qur’an . Apabila kita mengacu pada ayat yang di atas , tidak ada Jin yang kepanasan ketika dibacakan ayat Al qur’an , malahan mereka takjub dan mereka lalu beriman .

Jin hanya menjauh apabila kita memiliki keimanan yang sangat kuat pada Allah SWT , karena dalam keimanan dan ketaqwaan terdapat kekuatan . Kekuatan yang mampu membuat kita menjadi punya energy yang sangat berlebih untuk dapat melakukan banyak hal , terutama di dalam menghadapi mahluk Jin tersebut .

Jadi membacakan ayat Al qur’an sambil lebih takut pada hantu daripada Allah SWT adalah perbuatan yang sangat disukai oleh para Jin tersebut , karena manusia sudah menganggap ayat ayat itu lebih ampuh dan punya kekuatan jadi menganggap Al Qur’an itu hanya sekumpulan mantera dan jampi ampuh untuk mengusir hantu . Jadi manusia akan secara tidak sadar sudah berpegang pada ayat ayat itu , bukan pada Allah SWT , sangat tipis sekali memang , dan banyak sekali yang masih sulit membedakan . Bahkan banyak juga Jin yang berpura pura kepanasan ketika dibacakan ayat Al Qur’an , terutama ayat Qursi , agar manusia semakin menganggap ayat itu sangat ampuh untuk mengusir Jin , jadi akan mengkultuskan ayat itu.

Padahal , apabila iman kita sangat sangat kuat sekali , maka cukup dengan Bismillah saja , Jin sudah jauh jauh pergi , bahkan mungkin hanya dengan kemunculan kita saja mereka sudah terpental jauuuuhhh. Bukanlah ayat Al qur’an yang mampu mengusir Jin , tapi keimanan kita pada Allah SWT lah mampu mengusir mereka , karena kedekatan kita pada Sang Pencipta . Janganlah kewaspadaan kita hilang oleh tipu daya mereka , sehingga kita menjadi syirik tanpa kita sadari.

[KDZA]



Bagi yang mampu berpikir , berpikirlah